Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #15HariNgeblogFF. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman Tangan

di 6/20/2012 03:07:00 AM 0 komentar

Libur sekolah telah tiba. Sungguh senang bukan main rasanya. Apalagi liburan kali ini aku mempunyai seseorang yang sangat istimewa. Seseorang yang dari dulu kusukai dan jarang kutemui, kini hampir tiap saat  bisa bertemu. Setiap hari aku bisa menatap mata indahnya. Setiap hari aku bisa bermanja-manja dengannya. 

Aku senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang, di hari terakhir sebelum libur sekolah. Tidak kuhiraukan tatapan beberapa temanku yang penuh tanda tanya dan ikut tersenyum melihatku.

“Kamu kenapa sih, dari tadi kok senyum-senyum sendiri?” akhirnya salah satu temanku tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Hehehe...rahasia dong,” jawabku terkekeh yang membuat mereka semakin penasaran. Aku tertawa puas. 
***
Aku sengaja bangun pagi, karena hari ini aku akan berangkat ke Tawangmangu---tempat tujuan liburanku bersamanya. Sudah sejak lama aku ingin pergi ke Tawangmangu, ke air terjunnya, yang konon sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Setelah sampai di sana, aku segera membeli tiket masuk dan mulai menuruni anak tangga yang banyak menuju ke tempat air terjun---sekitar 200an anak tangga. Sepanjang perjalanan menuju air terjun, aku tidak melepaskan genggaman tanganku darinya. Sepanjang perjalanan pula, aku tidak berhenti berceloteh, bercerita apa saja, meskipun yang kuajak bicara hanya sesekali menjawab.

“Ma, itu pohon apa?” tanyaku yang selalu ingin tahu.

“Itu namanya pohon Saman, Sayang.”

Iya, kali ini aku pergi berlibur bersama Papa dan Mama baruku---Mama Kiran. Seorang perempuan yang belum lama ini dinikahi Papa. Seorang perempuan yang namanya hampir sama denganku, dan aku langsung jatuh cinta padanya sejak Papa mengenalkannya padaku. Dia adalah seorang ibu yang telah lama kuidam-idamkan. Seorang ibu, yang akan selalu mau mendengar ceritaku. Seorang ibu, yang mau menganggapku anak kandungnya sendiri.

Dan ini adalah liburan pertamaku ke Tawangmangu, yang tidak hanya kunikmati bersama Papa, tapi juga bersama Mama. Mereka adalah dua orang yang sangat kusukai dan sangat istimewa dalam hidupku. Aku tidak akan melupakan perasaan ini---ketika tangan kami saling  bergenggaman---hangat.

Sambil makan, aku melihat keindahan alam yang sangat indah; air terjun setinggi sekitar 80 meter yang memancarkan airnya tanpa henti, juga pohon-pohon besar berwarna hijau segar. Rasa capek langsung hilang saat aku melihat kedua orang yang paling kusayangi tertawa bahagia.

Iya, hidup ini memang indah jika kita selalu mensyukurinya.*

Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Day: 9

RAMAI

di 6/20/2012 01:36:00 AM 0 komentar

“Tolong, beri aku waktu!” ucapku di antara isak tangisku. Lelaki di depanku ini akhirnya mau sedikit merenggangkan tangannya, kemudian menunduk lesu. Aku segera beranjak pergi meninggalkanmu. Aku tidak ingin tangisku semakin menjadi-jadi di depanmu. Aku tidak ingin tampak seperti perempuan lemah yang tidak percaya diri, meski pada kenyatannya saat ini aku sedang mengalaminya.

Adalah Dhimas---lelaki masa laluku, yang sejak lima bulan terakhir ini kembali mengisi hari-hariku yang kulalui dengan penuh kegembiraan.  Kamu, yang dulu menghilang kini datang kembali, menawarkan seikat mimpi tentang masa depan. Rasanya seperti mimpi, bisa kembali dekat dan menghabiskan waktu bersama denganmu.
***
“Kamu di mana? Jangan membuatku cemas.” Entah itu SMS ke-berapa kali yang kuterima darimu, yang masih membuatku enggan untuk menjawabnya. Aku menghela nafas dan kembali melangkahkan kakiku di sepanjang Malioboro, tanpa tujuan. Sesekali berhenti dan melihat-lihat barang khas Jogja yang dijajakan di sepanjang jalan Malioboro ini. Suasana ramai selalu menghinggapi kawasan ini. Tak pernah sepi pengunjung, meskipun bukan hari libur. Dan aku menikmati keramaian ini untuk menutupi hatiku yang seringkali dihinggapi sepi yang entah.

Hampir dua minggu ini aku sengaja menghilang darimu, mengabaikan panggilan telepon atau pesan singkatmu. Aku kaget dan tidak bisa berpikir jernih saat tiba-tiba kamu memintaku untuk menjadi ibu baru untuk putri semata wayangmu. Kinar---gadis kecil yang langsung kusukai sejak pertama kali kamu mengenalkannya padaku. Gadis yang namanya hampir mirip denganku.Harusnya aku senang dengan lamaranmu, tapi entah kenapa, tiba-tiba perasaan ragu dan tidak percaya diri datang padaku. 

Aku duduk di pinggir jalan Malioboro, mengedarkan pandanganku ke segala arah, dengan pandangan kosong. Aku menghela nafas dan meneguk minumanku.

“Kiran...” Aku hampir tersedak saat tiba-tiba ada tangan menepuk bahuku dan memanggil namaku. Aku segera menoleh ke arah suara itu berasal. Mataku tak berkedip, tak percaya.

“Dhimas..kamu?” ucapku terbata-bata.

“Ahirnya ketemu juga. Aku mencarimu kemana-mana. Aku ingat, kamu pernah bercerita tentang Malioboro yang menjadi tempat favoritmu, makanya aku mencarimu di sini.” Katamu sambil mendekapku erat.

“Kamu jangan ngilang lagi, ya... Aku dan Kinar sayang banget sama kamu, Kiran.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya perasaan haru yang hinggap memenuhi pikiranku. Ternyata hati kecilku tidak bisa berbohong. Aku benar-benar masih mencintai lelaki ini, juga Kinar---gadis kecil yang mungkin memang ditakdirkan untukku yang tidak bisa memiliki keturunan, sejak rahimku diangkat setahun lalu akibat kecelakaan yang menimpaku. Dan Dhimas, tidak peduli dengan keadaanku yang tidak sempurna ini. Dia mencintaiku apa adanya. Dia menjadikanku sempurna atas ketidaksempurnaanku dengan menghadiahkan Kinar menjadi putriku.

Aku mengusap air mataku, tersenyum dan mengangguk pelan.

Seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutku---ramai, seperti Malioboro yang juga ramai sore ini.*

Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Day: 8

Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga

di 6/16/2012 03:56:00 PM 0 komentar

Sore ini kuputuskan untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar Jalan Braga—salah satu tempat favoritku. Di kawasan ini hampir tak pernah sepi pengunjung, selalu ramai hampir 24 jam, all day long. Banyak gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang berjejer megah, dengan arsitekturnya yang selalu berhasil menghipnotis mataku, membuatku berdecak kagum. Selain itu, hal yang membuatku senang jika jalan-jalan di kawasan ini adalah aku bisa memanjakan perutku dengan jajanan khas Bandung.

Setelah beberapa saat berjalan, aku memilih untuk duduk di sebuah kursi dan menikmati beberapa jajanan yang tadi sempat kubeli. Kuedarkan pandanganku, mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan ini. Tampak segerombolan anak muda yang sibuk mengarahkan knop lensa kameranya, membidik segala macam obyek yang menarik, beberapa pasangan yang berjalan berpegangan tangan, juga anak-anak kecil yang berlarian. Semua terlihat bahagia.

Entah bagaimana, tiba-tiba sekelebat bayanganmu muncul begitu saja dalam ingatanku. Rasa perih sekaligus rindu, kompak memenuhi pikiranku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba mengusir kamu dari dalam otakku. Iya, kamu harus segera enyah dari ingatanku. Tapi kamu tahu kan, rindu bisa saja muncul sewaktu-waktu tanpa pernah kita mau. Semakin aku memaksa untuk mengusirmu, semakin kerap kamu datang menghampiriku.

Aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku begitu mudah terperdaya kata-kata manismu. Bagaimana mungkin aku begitu saja jatuh cinta padamu. Sampai sebelum akhirnya, seorang perempuan muda berparas manis tiba-tiba menghubungiku dan ingin bertemu denganku. Dia mengaku bahwa dia adalah istrimu. Aku terkejut bukan main, kepalaku berat, dan tiba-tiba segalanya terasa gelap. Kamu tahu, kini aku benar-benar membencimu!!

Aku menghela nafas panjang. Kuteguk pelan teh botolku. Aku mengedarkan pandanganku lagi, mencoba mengusir lamunanku. Tanpa sengaja mataku menangkap bayangan yang tak asing bagiku, sosok yang begitu kukenal. Iya, itu kamu!

Satu detik, dua detik, tiga detik, mataku tak berkedip, aku terpaku menatapmu. Jantungku berdegup kencang. Kucoba mengatur nafasku yang mulai tak beraturan. Aku menggeser dudukku, berusaha agar tak tertangkap matamu. Aku memandangimu dari jauh, diam-diam.

Sesaat sebelum aku akan beranjak berdiri, perempuan yang menemuiku saat itu muncul dari  ballik punggungmu, mengurungkan niatku untuk membuat perhitungan denganmu, dan mungkin akan mendampratmu habis-habisan. Iya, setelah kejadian waktu itu, kamu seperti hilang ditelan bumi, menghilang begitu saja tanpa pernah meminta maaf padaku.

“Ayah, aku mau mainan itu,” tiba-tiba terdengar suara anak kecil merengek manja dan menarik-narik celanamu. Kamu menoleh ke arah suara itu, tersenyum dan merengkuh anak kecil itu dan menggendongnya di pelukanmu---seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun dengan baju berwarna pink dan rambut yang dikuncir lucu. Lalu, perempuan disampingmu ikut tersenyum dan mengecup gadis kecil itu. Aku melihat kalian bertiga tertawa. Tampak bahagia.

Tanpa sadar bulir kecil menetes dari sudut mataku. Bagaimana mungkin aku tega merusak kebahagiaan yang kulihat sekarang ini. Aku segera menyeka air mataku. Tiba-tiba perasaan  lega muncul dalam hatiku. Perasaan yang aku yakin, kelak akan mengobati lukaku. Dan senyum itu---senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya, biarkan tetap seperti itu.

Aku beranjak dari kursiku, melanjutkan acaraku menikmati sore hingga menjelang malam di sepanjang jalan Braga---dengan senyuman.*

Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Day: 5

Kamis, 19 Januari 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini

di 1/19/2012 09:15:00 PM 0 komentar
Sudah seminggu aku telah menjadi mata-mata untukku sendiri.  Dan hari ini, aku masih saja memata-mataimu. Sesekali aku menyewa orang untuk mengikuti kemanapun kau pergi, apa saja yang sedang kau kerjakan, dan siapa saja yang kau temui, mengawasi segala gerak-gerikmu. Seringkali aku juga memeriksa ponselmu, SMS, BBM, rincian panggilan, atau yang lain, dan tentunya tanpa sepengetahuanmu. Semua itu aku lakukan karena aku cemburu. Ya, aku cemburu padamu yang belakangan ini menunjukkan sesuatu yang tidak beres. Kejanggalan-kejanggalan yang tak pernah aku sadari sebelumnya.

***

Aku bersedia menikah denganmu, dua bulan yang lalu, setelah tiga bulan perkenalan kita. Memang terlalu singkat untuk mengenal sosokmu. Aku yang sudah lelah menjadi petualang cinta, aku yang sudah lelah oleh perihnya sakit hati, aku yang sudah lelah menjalani hubungan cinta yang semu, dengan mudah menerima begitu saja pinanganmu. Kau datang padaku dengan menawarkan seikat janji yang meyakinkan. Dan kau membuktikan semua kata-katamu. Kau dengan mantap meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk segera menikahiku. Aku senang bukan main, saat itu.

***

Aku menerima beberapa lembar foto yang membuat hatiku perih, sama seperti hari-hari sebelumnya. Kupandangi sekali lagi foto itu. Tampak kau sedang duduk berdua dan mengobrol mesra dengan orang lain. Orang yang tak pernah kukenal. Hanya saja orang yang bersamamu kali ini berbeda dengan orang yang sebelumnya. Tampak di foto, kau sedang tersenyum, senyum yang sangat asing bagiku. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya, kau tampak mesra dengannya, kali ini.

“Hallo..” kuangkat ponselku yang dari tadi berbunyi, membuyarkan lamunanku.
“Saat ini suami Ibu sedang berada di Java Cafe, sedang makan malam bersama orang yang saya foto tadi.”
“OK, thank’s.”

Aku segera memanggil taxi dan bergegas menuju cafe itu. Sesampainya disana, dengan mudah aku menemukan sosok itu. Aku duduk di kursi yang tak terlihat olehnya, tapi cukup untuk bisa mendengarkan percakapannya. Mereka sama sekali tidak menyadari kedatanganku. Aku dengan sembunyi-sembunyi memperhatikan segala gerak-geriknya. Aku melihat ekspresi yang begitu bahagia di wajah suamiku. Tersenyum dan tertawa lepas. Sesekali aku melihat orang itu menyuapkan makanan dan memegang tangan suamiku dengan mesra. Ah, aku tak sanggup lagi melihat semua ini. Hatiku hancur. Sedih, marah, terluka, campur aduk jadi satu. Aku benar-benar tertipu. Sikapmu yang manis ternyata hanya menutupi semua kedokmu. Kata-kata mesra yang selama ini kau ucap ternyata tak lebih dari bualan semata. Ternyata kau tidak mencintaiku, tetapi mencintai dia, Irwan, temanmu yang sering kau ajak mampir ke rumah. Tak terasa air mataku mengalir deras di pipiku.

Aku benci kamu hari ini. Sangat membencimu!!

 

Danie's Microcosm Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei