Tampilkan postingan dengan label Fiksi-ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi-ku. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Ruang Rindu

di 8/06/2012 10:48:00 PM 0 komentar


Maret 2012

Di siang yang pijar, aku duduk terdiam di sebuah kursi peron ini. Lagi. Kursi yang terbuat dari besi, berwarna putih, yang letaknya tepat di sebelah anak tangga. Di kursi peron ini, aku menunggu keretaku datang. Tiba-tiba, kilometer jarak menghampiriku dan mengajakku kembali ke masa itu---seperti de javu, dua tahun yang lalu. Masa yang seharusnya telah hilang dari ingatanku. Masa yang seharusnya sudah kalah tergerus arus waktu.
Di stasiun inilah, kenangan manis sempat terukir. Namun di stasiun ini pula, aku merasakan perih, tiap kali aku menginjakkan kaki kembali di kota ini---Malang.
Aku termasuk orang yang mempunyai sifat pelupa. Tetapi aku masih ingat, satu per satu kisah yang tersusun dalam puzzle cerita di stasiun ini. Cerita tentang aku dan kamu—dulu, saat menjadi kita. Kita yang kala itu sangat membenci jarak---yang menjadi musuh kita. Kita yang masih saling berbagi rindu.
Aku sempat berpikir, seandainya tak ada jarak, mungkin kita masih bisa saling menguatkan. Mungkin, kita masih bisa menikmati setiap inchi jejak-jejak rindu yang hadir. Dan mungkin, luka itu tidak akan pernah ada. Mungkin.
“Udahlah Fir, waktu yang akan menyembuhkan segala luka. Kamu nggak usah terus-terusan naif kayak gini. Percaya deh,” nasehat sahabatku di suatu senja.
Aku hanya bisa tersenyum dan mencoba memahaminya. Dalam hati, ada semacam keinginan untuk mempercayai kata-kata itu. Aku ingin menjadikannya doktrin atau semacam jargon penyemangat untuk kusimpan di otak sekaligus di hatiku. Namun tanpa disadari, kadang justru waktulah yang mampu menguak luka lama itu. Waktulah yang terus saja menggangguku dengan memunculkan ingatan-ingatan yang tak pernah ingin aku ingat. Dan mungkin, kadang waktu jugalah yang kadang membuatku menjadi sangat naif.
***
Februari 2010

Sekitar pukul 13.40 WIB aku sampai di stasiun Malang Kota Baru. Aku duduk di kursi peron; menunggumu. Dan tentu saja aku tahu, butuh waktu yang tidak sebentar untuk menunggumu kali ini.
Entah sesering apa aku melirik jam di tangan kiriku, menatapnya dengan cemas. Entah sudah berapa kali juga aku mengecek layar ponselku, mencoba menghubungimu dan mengirimkan beberapa pesan singkat. Aku mulai bosan.
Hari semakin sore. Udara dingin perlahan menyeruak masuk menusuk kulit dan menembus sweater hitam yang kupakai. Namun, tanda-tanda kedatanganmu belum juga tampak.
Pip pipp... ponselku berdering, mengirimkan pesan masuk. Aku segera membacanya.
“Tadi hujan dan Mas terjebak macet. Ini masih on the way. Adek gapapa kan? Makan dulu gih, biar nggak masuk angin.” Segera kubalas pesan singkat itu, mengatakan kalau aku baik-baik saja.
Jarak Surabaya – Malang memang tidak terlalu jauh, namun apapun yang tidak terduga bisa saja terjadi di sebuah perjalanan, bukan? Aku mendesah pelan, “semoga dia segera  datang dan selamat sampai tujuan,” batinku.
Aku ingat, kita sempat bertengkar kecil saat itu—sebelum rencana pertemuan kita. Kita sempat tidak berbicara dan berhenti saling menghubungi satu sama lain. Kita yang terpisah jarak dan waktu. Namun entah bagaimana, akhirnya kita sama-sama mengalah. Kita---mungkin, mempunyai hasrat yang sama untuk tetap saling merindu hingga akhirnya ingin bertemu. Aku dan kamu akhirnya  menyempatkan waktu untuk bertemu di tengah kesibukan kita masing-masing.
Senja akan segera menjemput malam, dan aku masih di stasiun ini. Masih menunggumu. Tak kuhiraukan lagi pegawai PJKA yang menatapku penuh tanda tanya, yang sedari tadi tidak juga beranjak dari kursi peron, padahal kereta terus datang dan pergi. Aku mengawasi sekelilingku dan menyadari bahwa ternyata hanya ada beberapa orang di sana, termasuk aku. Stasiun menjadi sangat sepi jika tidak ada jadwal keberangkatan kereta. Hawa dingin semakin membuatku menggigil diantara kebosanan dan sepi.
Selama kurang lebih tiga jam aku menunggumu, waktu terlama dalam hidupku untuk menunggu seseorang. Jengah, lelah, hingga ingin marah, sebelum akhirnya aku mendengar suaramu yang meneleponku, mengabarkan bahwa kamu telah sampai. Perasaan lega, haru, dan senang bercampur jadi satu. Akhirnya aku dan kamu dipertemukan kembali, di stasiun ini. Aku menamakannya ruang rindu, ruang aku dan kamu bertemu.
***
Perpisahan; adalah salah satu moment yang paling kubenci. Di dalamnya selalu ada air mata, perasaan haru, serta kehilangan. Iya, aku dan kamu akan terpisah lagi. Kita kembali di ruang ini—stasiun ini. Tanganmu meraih tanganku, memelukku, dan kemudian kamu mengecup keningku. Tak terasa, sudut mataku telah basah.
Satu minggu pertama, dua minggu, satu bulan, dua bulan... tanpa sadar aku jadi rajin menghitung waktu. Barangkali, jarak mempunyai hak untuk menjauhkan. Menjauhkan aku darimu, pun sebaliknya. Jarak menjauhkan kita. Dari selalu, menjadi sering, kemudian jarang, hingga tidak pernah sama sekali. Kita hanya berhenti saling bicara. Iya, kamu tidak pernah lagi mengirimkan kabar untukku. Kamu menghilang. Aku kehilangan.
***
Maret 2012

Aku masih duduk terdiam di sini---di stasiun Malang Kota Baru, menunggu kereta datang.
“Sayang, kamu udah nunggu lama ya? Sori nih telat. Keretanya belum datang kan?” tiba-tiba muncul suara yang mengagetkanku dan segera membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya sejenak, menggeleng, kemudian tersenyum padanya.
“Ah, syukurlah.”
Terdengar dia menghela napas pelan. Aku segera menggeserkan badanku, memberinya ruang untuk duduk di sampingku. Kulihat dia merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan sesuatu.
“Oh iya, nih buat kamu,” katanya seraya menyodorkan dua batang cokelat kesukaanku. Bola mataku tampak membesar. Girang. Aku tersenyum lagi padanya, kali ini lebih lebar.
“Makasih ya, Sayang,” jawabku sambil berkeling manja padanya--- lelakiku; Bisma. Lelaki yang telah menikahiku dua bulan yang lalu. Dan kali ini, aku kembali berada di ruang rindu ini, tidak lagi sendiri---berdua. Kini, aku telah berdamai dengan waktu dan hatiku. Mencoba mengikhlaskan masa lalu dan melupakan segala tentangmu. Membuang ruang rindu aku dan kamu; dulu. Kini; tidak ada salam perpisahan, tidak ada pelukan selamat tinggal, dan tidak ada isak tangisan seperti dulu; hanya ada senyuman.*

*ditulis untuk project #Ruang 

Rabu, 20 Juni 2012

Genggaman Tangan

di 6/20/2012 03:07:00 AM 0 komentar

Libur sekolah telah tiba. Sungguh senang bukan main rasanya. Apalagi liburan kali ini aku mempunyai seseorang yang sangat istimewa. Seseorang yang dari dulu kusukai dan jarang kutemui, kini hampir tiap saat  bisa bertemu. Setiap hari aku bisa menatap mata indahnya. Setiap hari aku bisa bermanja-manja dengannya. 

Aku senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan pulang, di hari terakhir sebelum libur sekolah. Tidak kuhiraukan tatapan beberapa temanku yang penuh tanda tanya dan ikut tersenyum melihatku.

“Kamu kenapa sih, dari tadi kok senyum-senyum sendiri?” akhirnya salah satu temanku tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Hehehe...rahasia dong,” jawabku terkekeh yang membuat mereka semakin penasaran. Aku tertawa puas. 
***
Aku sengaja bangun pagi, karena hari ini aku akan berangkat ke Tawangmangu---tempat tujuan liburanku bersamanya. Sudah sejak lama aku ingin pergi ke Tawangmangu, ke air terjunnya, yang konon sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Setelah sampai di sana, aku segera membeli tiket masuk dan mulai menuruni anak tangga yang banyak menuju ke tempat air terjun---sekitar 200an anak tangga. Sepanjang perjalanan menuju air terjun, aku tidak melepaskan genggaman tanganku darinya. Sepanjang perjalanan pula, aku tidak berhenti berceloteh, bercerita apa saja, meskipun yang kuajak bicara hanya sesekali menjawab.

“Ma, itu pohon apa?” tanyaku yang selalu ingin tahu.

“Itu namanya pohon Saman, Sayang.”

Iya, kali ini aku pergi berlibur bersama Papa dan Mama baruku---Mama Kiran. Seorang perempuan yang belum lama ini dinikahi Papa. Seorang perempuan yang namanya hampir sama denganku, dan aku langsung jatuh cinta padanya sejak Papa mengenalkannya padaku. Dia adalah seorang ibu yang telah lama kuidam-idamkan. Seorang ibu, yang akan selalu mau mendengar ceritaku. Seorang ibu, yang mau menganggapku anak kandungnya sendiri.

Dan ini adalah liburan pertamaku ke Tawangmangu, yang tidak hanya kunikmati bersama Papa, tapi juga bersama Mama. Mereka adalah dua orang yang sangat kusukai dan sangat istimewa dalam hidupku. Aku tidak akan melupakan perasaan ini---ketika tangan kami saling  bergenggaman---hangat.

Sambil makan, aku melihat keindahan alam yang sangat indah; air terjun setinggi sekitar 80 meter yang memancarkan airnya tanpa henti, juga pohon-pohon besar berwarna hijau segar. Rasa capek langsung hilang saat aku melihat kedua orang yang paling kusayangi tertawa bahagia.

Iya, hidup ini memang indah jika kita selalu mensyukurinya.*

Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Day: 9

RAMAI

di 6/20/2012 01:36:00 AM 0 komentar

“Tolong, beri aku waktu!” ucapku di antara isak tangisku. Lelaki di depanku ini akhirnya mau sedikit merenggangkan tangannya, kemudian menunduk lesu. Aku segera beranjak pergi meninggalkanmu. Aku tidak ingin tangisku semakin menjadi-jadi di depanmu. Aku tidak ingin tampak seperti perempuan lemah yang tidak percaya diri, meski pada kenyatannya saat ini aku sedang mengalaminya.

Adalah Dhimas---lelaki masa laluku, yang sejak lima bulan terakhir ini kembali mengisi hari-hariku yang kulalui dengan penuh kegembiraan.  Kamu, yang dulu menghilang kini datang kembali, menawarkan seikat mimpi tentang masa depan. Rasanya seperti mimpi, bisa kembali dekat dan menghabiskan waktu bersama denganmu.
***
“Kamu di mana? Jangan membuatku cemas.” Entah itu SMS ke-berapa kali yang kuterima darimu, yang masih membuatku enggan untuk menjawabnya. Aku menghela nafas dan kembali melangkahkan kakiku di sepanjang Malioboro, tanpa tujuan. Sesekali berhenti dan melihat-lihat barang khas Jogja yang dijajakan di sepanjang jalan Malioboro ini. Suasana ramai selalu menghinggapi kawasan ini. Tak pernah sepi pengunjung, meskipun bukan hari libur. Dan aku menikmati keramaian ini untuk menutupi hatiku yang seringkali dihinggapi sepi yang entah.

Hampir dua minggu ini aku sengaja menghilang darimu, mengabaikan panggilan telepon atau pesan singkatmu. Aku kaget dan tidak bisa berpikir jernih saat tiba-tiba kamu memintaku untuk menjadi ibu baru untuk putri semata wayangmu. Kinar---gadis kecil yang langsung kusukai sejak pertama kali kamu mengenalkannya padaku. Gadis yang namanya hampir mirip denganku.Harusnya aku senang dengan lamaranmu, tapi entah kenapa, tiba-tiba perasaan ragu dan tidak percaya diri datang padaku. 

Aku duduk di pinggir jalan Malioboro, mengedarkan pandanganku ke segala arah, dengan pandangan kosong. Aku menghela nafas dan meneguk minumanku.

“Kiran...” Aku hampir tersedak saat tiba-tiba ada tangan menepuk bahuku dan memanggil namaku. Aku segera menoleh ke arah suara itu berasal. Mataku tak berkedip, tak percaya.

“Dhimas..kamu?” ucapku terbata-bata.

“Ahirnya ketemu juga. Aku mencarimu kemana-mana. Aku ingat, kamu pernah bercerita tentang Malioboro yang menjadi tempat favoritmu, makanya aku mencarimu di sini.” Katamu sambil mendekapku erat.

“Kamu jangan ngilang lagi, ya... Aku dan Kinar sayang banget sama kamu, Kiran.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya perasaan haru yang hinggap memenuhi pikiranku. Ternyata hati kecilku tidak bisa berbohong. Aku benar-benar masih mencintai lelaki ini, juga Kinar---gadis kecil yang mungkin memang ditakdirkan untukku yang tidak bisa memiliki keturunan, sejak rahimku diangkat setahun lalu akibat kecelakaan yang menimpaku. Dan Dhimas, tidak peduli dengan keadaanku yang tidak sempurna ini. Dia mencintaiku apa adanya. Dia menjadikanku sempurna atas ketidaksempurnaanku dengan menghadiahkan Kinar menjadi putriku.

Aku mengusap air mataku, tersenyum dan mengangguk pelan.

Seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutku---ramai, seperti Malioboro yang juga ramai sore ini.*

Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Day: 8

Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga

di 6/16/2012 03:56:00 PM 0 komentar

Sore ini kuputuskan untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar Jalan Braga—salah satu tempat favoritku. Di kawasan ini hampir tak pernah sepi pengunjung, selalu ramai hampir 24 jam, all day long. Banyak gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang berjejer megah, dengan arsitekturnya yang selalu berhasil menghipnotis mataku, membuatku berdecak kagum. Selain itu, hal yang membuatku senang jika jalan-jalan di kawasan ini adalah aku bisa memanjakan perutku dengan jajanan khas Bandung.

Setelah beberapa saat berjalan, aku memilih untuk duduk di sebuah kursi dan menikmati beberapa jajanan yang tadi sempat kubeli. Kuedarkan pandanganku, mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan ini. Tampak segerombolan anak muda yang sibuk mengarahkan knop lensa kameranya, membidik segala macam obyek yang menarik, beberapa pasangan yang berjalan berpegangan tangan, juga anak-anak kecil yang berlarian. Semua terlihat bahagia.

Entah bagaimana, tiba-tiba sekelebat bayanganmu muncul begitu saja dalam ingatanku. Rasa perih sekaligus rindu, kompak memenuhi pikiranku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mencoba mengusir kamu dari dalam otakku. Iya, kamu harus segera enyah dari ingatanku. Tapi kamu tahu kan, rindu bisa saja muncul sewaktu-waktu tanpa pernah kita mau. Semakin aku memaksa untuk mengusirmu, semakin kerap kamu datang menghampiriku.

Aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku begitu mudah terperdaya kata-kata manismu. Bagaimana mungkin aku begitu saja jatuh cinta padamu. Sampai sebelum akhirnya, seorang perempuan muda berparas manis tiba-tiba menghubungiku dan ingin bertemu denganku. Dia mengaku bahwa dia adalah istrimu. Aku terkejut bukan main, kepalaku berat, dan tiba-tiba segalanya terasa gelap. Kamu tahu, kini aku benar-benar membencimu!!

Aku menghela nafas panjang. Kuteguk pelan teh botolku. Aku mengedarkan pandanganku lagi, mencoba mengusir lamunanku. Tanpa sengaja mataku menangkap bayangan yang tak asing bagiku, sosok yang begitu kukenal. Iya, itu kamu!

Satu detik, dua detik, tiga detik, mataku tak berkedip, aku terpaku menatapmu. Jantungku berdegup kencang. Kucoba mengatur nafasku yang mulai tak beraturan. Aku menggeser dudukku, berusaha agar tak tertangkap matamu. Aku memandangimu dari jauh, diam-diam.

Sesaat sebelum aku akan beranjak berdiri, perempuan yang menemuiku saat itu muncul dari  ballik punggungmu, mengurungkan niatku untuk membuat perhitungan denganmu, dan mungkin akan mendampratmu habis-habisan. Iya, setelah kejadian waktu itu, kamu seperti hilang ditelan bumi, menghilang begitu saja tanpa pernah meminta maaf padaku.

“Ayah, aku mau mainan itu,” tiba-tiba terdengar suara anak kecil merengek manja dan menarik-narik celanamu. Kamu menoleh ke arah suara itu, tersenyum dan merengkuh anak kecil itu dan menggendongnya di pelukanmu---seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun dengan baju berwarna pink dan rambut yang dikuncir lucu. Lalu, perempuan disampingmu ikut tersenyum dan mengecup gadis kecil itu. Aku melihat kalian bertiga tertawa. Tampak bahagia.

Tanpa sadar bulir kecil menetes dari sudut mataku. Bagaimana mungkin aku tega merusak kebahagiaan yang kulihat sekarang ini. Aku segera menyeka air mataku. Tiba-tiba perasaan  lega muncul dalam hatiku. Perasaan yang aku yakin, kelak akan mengobati lukaku. Dan senyum itu---senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya, biarkan tetap seperti itu.

Aku beranjak dari kursiku, melanjutkan acaraku menikmati sore hingga menjelang malam di sepanjang jalan Braga---dengan senyuman.*

Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Day: 5

Rabu, 02 Mei 2012

Secangkir Teh Dan Kamu

di 5/02/2012 07:45:00 AM 0 komentar

Aku sangat menyukai teh. Panas ataupun dingin. Hampir setiap hari aku meminumnya. Secangkir teh yang kunikmati setiap paginya mempunyai rasa yang khas, yang belum pernah kutemui di tempat lain---teh buatan ibuku. Kau tahu kan, makanan atau minuman yang dibuat ibumu selalu jadi nomor satu. Dan aku sangat menyukai teh buatan ibuku. Bukan hanya aku yang menyukai teh buatan Ibu, tapi beberapa temannya, temanku, dan saudara kami. Dan Ibuku mengajariku membuatnya; tentu saja dengan teknik khususnya.

Akan lebih nikmat jika kau menikmati secangkir teh bersama dengan orang yang kau sayangi, ditemani dengan snack atau biskuit sambil menikmati senja yang menuangkan semburat jingganya. Dengan bercengkerama atau dengan menonton televisi yang kadang acaranya sedikit membosankan.

Seperti saat ini, sore ini. Aku membuat dua cangkir teh; untukku dan untukmu. Aku juga membuatkan pisang goreng, kesukaanmu. “Yang paling mantap tuh, sore-sore gini minum teh, camilannya pisang goreng,” ujarmu kala itu. Sejak itu, setiap kita mempunyai waktu luang, aku selalu membuatkannya untukmu. Iya, karena kesibukan kita masing-masing, kita menjadi jarang menghabiskan waktu bersama. Kita jarang menikmati keajaiban alam kesukaan kita; senja yang jingga. Dan kamu, adalah penggemar pertama teh buatanku.

Hingga detik ini, akhirnya kita bisa menikmati waktu favorit kita---senja, berdua, di beranda belakang rumah. Kita duduk berdampingan di kursi. Sesekali kau merangkulkan tanganmu, dan mengecup keningku. Berbagi cerita tentang rutinitas kita yang terkadang membosankan. Dengan hanya begitu, beban pikiranku jadi sedikit berkurang.

Namun, secangkir tehmu masih utuh. Sepiring pisang goreng kesukaanmu juga belum kau sentuh, hingga keduanya menjadi dingin. Sementara aku, masih dengan secangkir teh yang juga masih utuh di tanganku. Diam.
“Ma, ayo..katanya mau main rumah-rumahan sama Adek?” Nayla, putri semata wayangku menarik-narik lengan bajuku. Aku kaget dan tersadar dari lamunanku. Tak terasa air mataku mengalir. Ternyata aku masih saja terus merindukannya, hingga hari ini, detik ini. Aku seperti orang gila yang tanpa sadar berbicara sendiri dan hanya bisa memeluk bayangannya---suamiku, yang hari ini tepat satu tahun sejak kecelakaan yang merenggut nyawanya.*

Rabu, 18 April 2012

Maaf, Aku Bohong!

di 4/18/2012 03:48:00 PM 0 komentar
"Aku selalu ingin jatuh di hatimu, sebelum akhirnya sadar bahwa mengagumi jauh lebih merasa terhormat dari segala apa yang kusebut cinta" ~ @Aya_zahir


Mataku terasa panas, seperti akan menangis. Dan aku benci menangis, terlebih hanya karena kamu.
Aku memang cengeng dan sering menangis, tapi bukan karena kamu. Sungguh, bukan karena kamu.
Ada hal-hal lain yang mudah membuatku menangis, tapi sekali lagi, bukan karena kamu!

Bagaimana bisa aku sebegitu emosional menghadapimu?
Bagaimana bisa aku merasa gembira ketika kita bisa menghabiskan sedikit waktu di tiga per empat sisa malam hanya dengan mengobrol melalui tulisan?
Bagaimana bisa kamu, yang belum lama kukenal bisa menjadi inspirasiku dalam menulis?
Bagaimana bisa kamu, dengan jarak ribuan kilometer, bisa membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, hanya dengan mengingatmu?
Bagaimana bisa kamu, yang kerap kali mengabaikanku, tetap bisa membuatku untuk tidak membencimu?
Ini gila. Benar-benar gila!

Kamu pasti tidak pernah tahu bahwa aku tidak suka berbohong. Aku ingin selalu jujur dengan sikap dan ucapanku. Aku ingin jujur pada setiap apa yang aku rasakan. Tapi tidak untuk kali ini. Tidak untuk perasaanku padamu. Maaf, aku terpaksa berbohong... Maaf, kalau aku cenderung naif..
Aku tetap tidak bisa mengakui bahwa aku menyukaimu. Ya, meskipun kamu sendiri sudah tahu kalau aku berbohong. I just don't care!!

Sekali lagi, aku tidak akan pernah mau berkata jujur untuk kali ini.
Karena tanpa aku berkata jujur pun, kamu sudah tahu apa yang aku rasakan..
Biarkan aku bersikap naif, untuk kali ini..

Jumat, 30 Maret 2012

Selamat Ulang Tahun, Kamu!

di 3/30/2012 11:33:00 PM 3 komentar
Mataku tak sengaja melihat kalender di ruang kerjaku. Kulihat tanda merah melingkari angka 5. Aku lupa kapan aku melingkarinya. Sifat pelupaku semakin bertambah parah. Bahkan aku hampir selalu lupa hari ini hari apa. Hanya catatan dan reminder di ponsel yang seringkali kuandalkan. Aku melihatnya sekali lagi dan menepuk keningku, "hampir aja lupa. Tanggal 5 Januari, berarti hari ini", gumamku.

Aku segera menghubungi sekertarisku dan memintanya untuk segera memesan tempat di sebuah restoran dan menyiapkan segala yang kubutuhkan. Aku juga menghubungi seseorang dan meminta kesediaannya untuk datang, seperti yang telah direncanakan seminggu yang lalu.

Meskipun ini terlalu mendadak, karena keteledoranku sendiri, aku ingin segala sesuatunya sempurna untuk seseorang yang sangat spesial. Seseorang yang selalu memenuhi ruang di hatiku. Seseorang yang selalu ada untukku dan memberi warna di hidupku. Seseorang yang sangat kucintai. Dia adalah jantung hatiku.
***
Hampir dua puluh menit aku menunggu, akhirnya dia datang. Malam ini dia terlihat sangat cantik dengan dress warna pink, kesukaannya. Aku mengecup pipinya. Dia tersenyum manis.

Aku melirik jam di tangan kananku. Sebentar lagi, batinku.
"Ada kejutan spesial untukmu, Sayang. Tunggu sebentar lagi, ya.." kataku dengan mengedipkan salah satu mataku.
"Apa nih?"
"Tapi matanya ditutup dulu ya..nggak boleh ngintip loh.."
"Huh, apaan sih sampai segitunya. Bikin penasaran aja", jawabnya dengan memoncongkan bibirnya.
Aku tersenyum dan segera menghampirinya untuk mengikatkan kain kecil untuk menutupi kedua matanya. Dia pun menurut pasrah.

Aku segera mengetik pesan di ponselku. Tak lama kemudian, seseorang datang dengan sebuah kuetart di tangannya. Aku melambaikan tanganku ke arahnya dan meletakkan jari telunjukku di bibirku, memberinya isyarat. Dia tersenyum menghampiriku dan duduk di sampingku.

"Udah belom? Lama banget, sih.." tanyanya kesal.
"Iya, udah. Sekarang buka deh."

Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan tampak kaget dengan apa yang dilihat di depannya. Aku tersenyum. "Selamat ulang tahun, Sayang. Seperti yang kamu inginkan, kejutan spesialnya sudah ada di depanmu-- seorang ibu untukmu" kataku sambil mengecup keningnya.

Senyum Kinar langsung merekah dan langsung memeluk perempuan yang ada di depannya. Perempuan yang sempat menghilang. Perempuan yang sejak lama diinginkan Kinar untuk menjadi ibunya. Perempuan yang kucintai setelah Kinar, putri kecilku satu-satunya.

Dia tertawa riang. "Terima kasih, Pa.." bisiknya sambil mengecup pipiku.*



Sabtu, 17 Maret 2012

Cinta Itu Menyembuhkan

di 3/17/2012 10:54:00 PM 0 komentar
Alya mematut dirinya di depan cermin, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini ia lebih mencondongkan wajahnya ke cermin, mengamatinya sekali lagi dengan seksama. Ia menyentuh pipi, kening, dan sesekali merapikan rambutnya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan membuka galery photo. Ia melihat photo dirinya bersama teman-temannya yang diambil dua hari yang lalu di acara pernikahan salah satu teman semasa kuliahnya. Kemudian ia mulai membandingkan penampilan dirinya dengan teman-temannya.

“Apa yang salah, sih? Emang salah gue gitu, kalau muka gue nggak boros?” gumamnya. Ia mendengus kesal dan menghempaskan dirinya ke ranjang. Matanya menerawang dan teringat kembali kejadian dua hari yang lalu.

“Eh si Alya, lama nggak ketemu..Kok nggak berubah, tetep aja kayak dulu ya?” kata Icha, temannya.“Iya, Cha..hehe” jawab Alya sambil nyengir. Dalam hatinya ada rasa senang sekaligus kesal. Senang karena merasa masih kelihatan lebih muda dibanding dengan teman-temannya yang lain yang tampak lebih tua, ini artinya ia awet muda. Tapi lama-lama dirinya merasa kesal juga karena hampir tiap bertemu, mereka selalu mengatakan hal yang sama. Ia tidak tahu lagi cara membedakan mana yang pujian, dan mana yang celaan. “Iya Al, lo imut, sih” temannya yang lain ikut berkomentar. Kali ini, Alya hanya tersenyum kecil.

Saat sedang mengobrol, tidak sengaja mata Alya melihat Ray--lelaki yang dulu pernah singgah di hatinya. Ia enggan untuk menampakkan diri, apalagi untuk menyapanya. Tapi hal itu sungguh tidak bisa ia hindari. Ray melihatnya...dan menghampirinya. Alya pun cenderung pasif untuk terlibat percakapan dengannya. Ada sisa luka yang tiba-tiba menguap begitu saja, tanpa ia sadari. Padahal ia telah berusaha untuk mengubur luka itu dalam-dalam, tiga tahun ini. Dan ia merasa cukup berhasil melupakan kenangan itu, sampai akhirnya ia harus bertemu lagi dengannya--hari ini. Ia merasa ingin cepat-cepat pulang dan menghilang.

Tanpa sadar, ia teringat saat dirinya dan Ray masih dekat dan menjalin hubungan baik--dulu. Mereka terlibat hubungan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saling menjaga dan menyayangi satu sama lain tanpa pernah ada kata yang seharusnya diucapkan oleh dua orang yang memang saling mencinta—sebuah pengakuan cinta. Tapi kenyataannya, mereka hanya sepasang sahabat yang saling mencinta dalam diam. Beberapa teman menyebutnya sebagai “complicated-relationship”. Dan Alya menyebutnya; hubungan yang menggantung. Klise.

Hubungan mereka terus berlanjut seperti itu, hingga Ray, tanpa sepengetahuan Alya, menjalin hubungan dengan gadis lain. Ray mengenalkan gadis itu sebagai tunangannya. Seketika hati Alya hancur. Ray; sahabat yang ia sayangi sekaligus ia cintai, tidak pernah bercerita mengenai hal ini. Padahal selama ini hampir tidak ada rahasia di antara mereka.

“Oh, jadi ini temen yang sering kamu ceritain ke aku, Say..” kata gadis itu, saat dikenalkan dengan Alya. “Wah, beneran masih kelihatan imut, ya..Beda banget sama kamu, Say. Muka kamu boros banget, hahaha..” katanya lagi, dengan gaya sok akrab yang tentu saja, sedikit menyinggung perasaan Alya. Ia hanya tersenyum kecil menanggapi komentar gadis itu. Ray menyikut lengan gadis itu. Ray tahu, Alya paling sensitif tentang hal yang menyangkut fisiknya yang memang tergolong kecil mungil.

Beberapa hari kemudian, Alya tidak sengaja bertemu dengan salah satu teman dekat Ray. Ia bercerita bahwa Ray sebenarnya mencintai Alya, tapi ibunya tidak menyetujuinya, hanya karena penampilan Alya yang childish. Ibunya berpikir bahwa Alya tidak cukup dewasa untuk bersama anaknya. Dan Ray bingung harus memilih siapa. Ia tergolong tipe penurut dan sangat menyayangi ibunya. Ia hampir tidak pernah membantah perkataan ibunya, walaupun harus mengorbankan perasaannya sendiri. Dan Ray akhirnya memilih untuk menghindar dari Alya dan membuka hatinya untuk yang lain. Alya terdiam mendengar cerita temannya itu. Lukanya semakin bertambah. Bagaimana mungkin, seseorang hanya dinilai dari wajah dan penampilannya, tanpa terlebih dulu mencoba untuk mengenalnya. Sejak itu, hubungannya dengan Ray merenggang. Dari yang selalu, menjadi sering, lalu jarang...dan kemudian tidak sama sekali. Mereka hanya berhenti bicara.

***

Mata Alya masih menerawang ke langit-langit kamar. “Berarti emang bukan jodoh”, gumamnya. Alya tersenyum sendiri dan kemudian memandangi suaminya yang masih tertidur pulas di sampingnya. Cinta lelaki inilah yang telah menyembuhkan lukanya, juga cinta mertuanya. Mereka tidak pernah mempermasalahkan penampilan Alya. Mereka bilang, itu hanya soal penampilan. Cinta itu menyembuhkan. Menyembuhkan segala luka. Menyembuhkan rasa tidak percaya dirinya.

Rabu, 01 Februari 2012

Dia, Harry Potter-ku

di 2/01/2012 09:22:00 PM 0 komentar
Dia mempunyai nama yang unik. Dan aku memanggilnya dengan nama tengahnya. Aku senang memanggilnya seperti itu, dari dulu. Mungkin hanya aku seorang yang memanggilnya dengan nama itu. Ya, mungkin. Entahlah.

Dia, lelaki manis berkulit coklat namun tidak terlalu gelap. Dengan sepasang mata yang indah terbingkai kacamata. Dia mempunyai senyum yang hangat, seperti matahari yang menyinari langit di waktu senja dan berwarna jingga. Tubuhnya tidak atletis, namun cukup kokoh untuk melindungiku dari terpaan angin dingin. Dia tidak terlalu banyak bicara, sederhana, dan tidak banyak tingkah seperti teman-temanku yang lain. 

Aku suka memandanginya diam-diam dari jauh, mengamatinya, dan mengaguminya. Kerap aku menyapa dan memanggil namanya dengan riang, saat berjalan melewatiku yang sedang duduk-duduk bergerombol bersama teman-temanku yang lain-- di depan kelasku, dan berharap bisa menikmati senyuman itu. Aku sangat menyukai saat-saat itu. 

Aku jarang mempunyai kesempatan untuk bisa mengobrol dengannya, seperti sekedar menanyakan tentang pelajaran sekolah, hal-hal yang disukai atau yang tidak disukainya. Namun, aku tahu bahwa dia adalah lelaki yang cerdas dan pintar. Bahwa dia selalu mendapatkan peringkat terbaik di kelasnya. Bahwa dia adalah lelaki yang pantang menyerah, tekun dan rajin belajar diantara teman-temannya yang lain. Bahwa dia mempunyai sifat keras kepala dan kadang susah diatur. Dan mungkin aku sok tahu. Ya, mungkin.

Bagiku, dia adalah Harry Potter-ku. Dia, Harry Potter-ku; yang berkacamata, tak banyak bicara, namun cerdas. Dia, Harry Potter-ku; yang berani menghadapi apapun tanpa rasa takut. Dia, Harry Potter-ku; yang berpenampilan sederhana dan apa adanya. Dia, Harry Potter-ku; yang tampan dan berkharisma. Dia, Harry Potter-ku; yang senyumnya slalu mampu membuat hatiku meleleh seperti eskrim rasa coklat kesukaanku. Dia, Harry Potterku; yang berhasil membuatku salah tingkah dan tampak bodoh, tiap kali bertegur sapa dengannya.

Sembilan tahun berlalu dan aku masih menyimpan rasa itu. Ya, aku jatuh cinta padanya. Meski cinta itu tak akan pernah berbalas. Meski cinta itu hanya ada di hatiku, dan tak pernah terlintas untuk singgah ataupun bermain-main di hatinya. Dia; cinta platonisku---karena aku hanya mengaguminya diam-diam. Ya, aku hanya mencintainya diam-diam. Aku juga tak pernah tahu, apakah dia, si Harry Potter-ku itu pernah menyadari keberadaanku. Karena sembilan tahun ini, aku dan dia telah terpisah jarak dan waktu. Dan kabar terakhir yang kudengar, dia telah bertunangan dengan perempuan lain, yang tak pernah ku tahu.



Teruntuk Kamu, yang slalu kupanggil dengan nama tengahmu



Kamis, 19 Januari 2012

Aku Benci Kamu Hari Ini

di 1/19/2012 09:15:00 PM 0 komentar
Sudah seminggu aku telah menjadi mata-mata untukku sendiri.  Dan hari ini, aku masih saja memata-mataimu. Sesekali aku menyewa orang untuk mengikuti kemanapun kau pergi, apa saja yang sedang kau kerjakan, dan siapa saja yang kau temui, mengawasi segala gerak-gerikmu. Seringkali aku juga memeriksa ponselmu, SMS, BBM, rincian panggilan, atau yang lain, dan tentunya tanpa sepengetahuanmu. Semua itu aku lakukan karena aku cemburu. Ya, aku cemburu padamu yang belakangan ini menunjukkan sesuatu yang tidak beres. Kejanggalan-kejanggalan yang tak pernah aku sadari sebelumnya.

***

Aku bersedia menikah denganmu, dua bulan yang lalu, setelah tiga bulan perkenalan kita. Memang terlalu singkat untuk mengenal sosokmu. Aku yang sudah lelah menjadi petualang cinta, aku yang sudah lelah oleh perihnya sakit hati, aku yang sudah lelah menjalani hubungan cinta yang semu, dengan mudah menerima begitu saja pinanganmu. Kau datang padaku dengan menawarkan seikat janji yang meyakinkan. Dan kau membuktikan semua kata-katamu. Kau dengan mantap meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk segera menikahiku. Aku senang bukan main, saat itu.

***

Aku menerima beberapa lembar foto yang membuat hatiku perih, sama seperti hari-hari sebelumnya. Kupandangi sekali lagi foto itu. Tampak kau sedang duduk berdua dan mengobrol mesra dengan orang lain. Orang yang tak pernah kukenal. Hanya saja orang yang bersamamu kali ini berbeda dengan orang yang sebelumnya. Tampak di foto, kau sedang tersenyum, senyum yang sangat asing bagiku. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya, kau tampak mesra dengannya, kali ini.

“Hallo..” kuangkat ponselku yang dari tadi berbunyi, membuyarkan lamunanku.
“Saat ini suami Ibu sedang berada di Java Cafe, sedang makan malam bersama orang yang saya foto tadi.”
“OK, thank’s.”

Aku segera memanggil taxi dan bergegas menuju cafe itu. Sesampainya disana, dengan mudah aku menemukan sosok itu. Aku duduk di kursi yang tak terlihat olehnya, tapi cukup untuk bisa mendengarkan percakapannya. Mereka sama sekali tidak menyadari kedatanganku. Aku dengan sembunyi-sembunyi memperhatikan segala gerak-geriknya. Aku melihat ekspresi yang begitu bahagia di wajah suamiku. Tersenyum dan tertawa lepas. Sesekali aku melihat orang itu menyuapkan makanan dan memegang tangan suamiku dengan mesra. Ah, aku tak sanggup lagi melihat semua ini. Hatiku hancur. Sedih, marah, terluka, campur aduk jadi satu. Aku benar-benar tertipu. Sikapmu yang manis ternyata hanya menutupi semua kedokmu. Kata-kata mesra yang selama ini kau ucap ternyata tak lebih dari bualan semata. Ternyata kau tidak mencintaiku, tetapi mencintai dia, Irwan, temanmu yang sering kau ajak mampir ke rumah. Tak terasa air mataku mengalir deras di pipiku.

Aku benci kamu hari ini. Sangat membencimu!!

Selasa, 08 November 2011

DIA

di 11/08/2011 12:46:00 AM 0 komentar

"Sepi itu kamu, yang selalu datang dengan diam yang entah."
Sepenggal kalimat pendek itu terus berputar di otakku, memikirkannya. Dia yang selama lebih dari satu setengah tahun telah mengisi hatiku, meskipun cintaku ada kalanya bertepuk sebelah tangan.
Dia yang selalu datang tiba-tiba, selalu membuatku kaget dengan kejutan-kejutan kecilnya, kemarahan-kemarahan kecilnya, dan sesekali mengabaikanku. Bagiku, itu semua tak lebih dari kejutan darinya yang dihadiahkan untukku. Hanya berpikir seperti itu yang bisa menenangkanku dan membuat suasana hatiku jadi sedikit jauh lebih baik.
Pernah aku mencoba untuk menutup pintu hatiku rapat-rapat dan sedikit mengalihkan perhatianku darinya. Tapi di saat itu pula, dia slalu datang tiba-tiba mengusik ketenanganku, merobohkan benteng yang mulai kokoh kubangun dengan susah payah. Dia merusak segalanya dengan mudah. Dan aku pun tak bisa membiarkan dia terlalu lama berdiri diam di depan pintu itu; pintu hatiku. Selalu dan selalu kubuka pintu itu pelan-pelan untuknya, dan (mungkin) hanya untuknya seorang.
Bodoh?? Iya. Memang benar aku bodoh. Terlalu bodoh untuk menghadapinya; lelaki yang sangat biasa bagiku dibandingkan dengan lelaki lain yang sebelumnya pernah singgah di hatiku. Lelaki yang selalu membuatku khawatir. Lelaki yang membuatku slalu bertanya-tanya tentang cinta sejati atau apa lah itu. Lelaki yang mampu membuat bibirku untuk tidak berkata tidak. Karena cinta? Atas nama cinta kah?? Ah, aku sudah tidak mengerti apa sebenarnya arti cinta itu. Seperti apa bentuk atau pun wujudnya. Aku telah melampaui batas itu; batas yang sebenarnya tak pernah aku mengerti dan membuatku bingung.
Dia lagi-lagi datang dengan segala kesedihan dan diamnya. Dia selalu melampiaskan lukanya denganku. Dan tak pernah dia bagi bahagianya bersamaku. Dia hanya memberi tawa lepasnya kepadanya; dan bukan kepadaku. Aku iri!! Ya, aku iri setiap melihatnya berbagi tawa bersamanya. Apa memang seperti ini rasanya menjadi perempuan kedua? ~~

~ Dan's fiksi 08/11/11~

 

Danie's Microcosm Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei