Rabu, 25 April 2012

Pria Tanpa Kata

di 4/25/2012 01:29:00 AM 0 komentar


Saya melihat jam di layar ponsel. Jam 19.30 WIB. Sebentar lagi pria itu akan muncul. Dan sesaat kemudian saya melihatnya. Seperti biasa, berjalan dari arah timur ke barat, dengan jaket hitam, dan sarung, dengan ekspresi muka yang datar, tatapan mata kosong. Hanya diam. Sama, setiap malam. Setiap hari.

Beberapa orang selalu menutup hidung, dengan sebelah tangan mereka, tiap kali pria itu berjalan melintasi mereka. "Aku nggak tahan sama baunya. Dia nggak pernah mandi." kata seorang ibu-ibu yang duduk di sebelahku. Saya sendiri hanya bisa menatap iba ke arah punggungnya yang berjalan setelah melewati gerombolan kami. Hidungku kadang tidak terlalu peka dengan bau-bauan yang tidak terlalu menyengat. Jadi, selama saya tidak terlalu dekat dengan asal bau itu, hidung saya tidak bermasalah.


Dia--pria itu, kutaksir umurnya sekitar 40-an. Kulitnya kuning, tapi tidak terawat, cenderung kumal. Dia--gosipnya, depresi karena ditinggal istri dan anaknya. Konon, menurut cerita yang saya dengar dari para tetangga yang selalu membicarakannya tiap kali dia lewat, dulunya tidak seperti ini. Dia hanya stress biasa saat ditinggal istrinya yang lebih memilih laki-laki lain. Dia masih bisa bertahan dan mempunyai semangat untuk hidup karena masih ada putri semata wayangnya. Tapi, ketika putrinya beranjak dewasa--entah bagaimana, putrinya ikut pergi meninggalkannya sendiri, ikut ibunya. Pria itu, semakin depresi dan kehilangan semangat untuk hidup. Dia hanya diam dan diam.


Pernah, satu waktu saya lewat depan rumahnya. Seketika aku mengelus dada, tidak tega. Saya membayangkan bagaimana kalau itu terjadi pada saya atau orang lain yang kukenal. Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dan tinggal di rumah kecil, yang hanya berdinding bambu, berlantai tanah, dengan bagian kanan, kiri, dan entah mana lagi, penuh dengan lubang besar, karena sudah lapuk dimakan hewan pemakan kayu. Rumah itu tidak ada listrik dan kamar mandinya, dan mungkin di dalamnya hanya ada beberapa barang yang mungkin sudah tidak layak.


Bagaiman mungkin orang bisa hidup benar-benar sendiri seperti itu, tanpa pekerjaan, dan tentu saja tanpa makanan. Tetangga pria itu dulunya masih sering memberi bantuan kecil, seperti makanan--mungkin. Tapi setelah dia depresi seperti itu, dia hanya diam dan diam. Tanpa kata. Tanpa suara. Tapi tak pernah mengamuk, seperti kebanyakan orang gila yang lain.


Setiap malam di setiap harinya, dia berjalan ke arah barat--ternyata ke rumah saudaranya. Iya, ternyata dia masih mempunyai saudara. Saudara kandung--adiknya. Pria itu pergi ke rumah adiknya, hanya untuk meminta sesuap nasi, untuk mengisi perutnya. Untuk menyambung hidupnya.


Yang membuat saya heran, lantas mengelus dada; bagaimana mungkin seorang adik kandung tega membiarkan kakak kandungnya sendiri hidup seperti itu. Bukan lantas saya nyinyir atau apa, tapi saya merasa kasihan tapi sekaligus tidak bisa berbuat apa-apa. Saya pikir, alangkah lebih baik kalau adiknya itu merawat kakaknya. Menyuruhnya untuk tinggal di rumahnya dan memberi makan. Toh, si pria itu tidak pernah berulah macam-macam. Dia--setahu saya dan tetangga saya, hampir tak pernah berbicara, sepatah kata pun. Mungkin, jika adiknya mau sedikit lebih peduli dan sayang pada kakaknya, dia akan terlihat sedikit lebih normal dari sekarang. Dan mungkin saja, dia akan mau berkomunikasi dan sehat kembali. Naudzubillah...


Memang, di dunia ini tak ada yang sempurna. Tak ada yang abadi. Tapi, memang seperti itulah hidup, bukan? Semuanya bisa berubah. Umur, tinggi badan, cuaca, suasana, waktu, apa pun itu, tak terkecuali. Meminjam kata-kata dari @falafu, bahwa apa yang paling cepat berubah di dalam hidup ini adalah perasaan, adalah hati. Itulah kenapa, kita sering mendengar orang mengatakan; " Isi hati manusia, siapa yang tahu." Iya, kita tidak akan pernah tahu apa isi hati seseorang, apa yang dirasakannya. Perasaan dan hati seseorang cepat sekali berubah tanpa pernah kita tahu waktunya. Dan mungkin, yang terjadi di sini adalah perubahan sayang dari seorang adik kepada kakaknya menjadi tidak sayang, sebelum akhirnya menjadi tidak peduli (lagi).


Dan apa dia atau mereka salah dengan semua perubahan itu? Tidak. Setiap orang punya cara masing-masing untuk menjalani hidup mereka. Setiap yang terjadi dalam diri manusia bukannya tanpa alasan, bukan?
Saya tidak berhak menyalahkan atau men-judge orang lain atas apa yang dilakukannya. Saya hanya ingin, semoga saya dan mungkin Anda, yang mau menyempatkan diri untuk membaca tulisan basi saya ini, tetap peduli dengan orang lain, terlebih itu saudara kita. Karena kita tak pernah bisa hidup sendiri, karena kita adalah manusia sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain, entah itu teman, saudara, atau keluarga. Dan semoga, kita selalu bisa menjaga hati kita.. 



Senin, 23 April 2012

Selamat Tinggal, Kamu

di 4/23/2012 11:41:00 PM 0 komentar
Mataku tidak bisa terpejam. Sama sekali.
Memikirkanmu? Mungkin.
Aku ingin sisa malam ini cepat berlalu, segera terlelap, dan menari-nari di alam mimpi indahku.
Hingga nanti, saat mataku terbuka di pagi hari, aku masih bisa tersenyum dan menganggap itu semua hanya mimpi. Mimpi buruk.  Aku berharap seperti itu.

Tapi, ternyata aku salah. Ini nyata. Sama sekali bukan mimpi!!
Sesaat kilometer jarak menghampiri, aku masih tersesat.. Teringat kata-kata yang hingga kini masih terngiang dan kadang membuatku perih; “saat hati mulai bicara, akan ada hati yang terluka.” Iya, aku tahu bahwa pada akhirnya akan seperti itu.

Menyedihkan!!
Menyedihkan; di saat kita menyadari bahwa kita terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Menyedihkan; di saat kita mulai berhasil menata kembali serpihan hati yang berserakan, sebelum menyadari bahwa pada akhirnya hati itu akan hancur berantakan kembali. Dan kita harus memulainya dari awal lagi.
Menyedihkan; di saat kita mulai mencintai seseorang dan orang itu tidak pernah melihat kita.
Menyedihkan; di saat kita menemukan apa yang kita cari, apa yang kita butuhkan ada pada sekeping hati itu, sebelum akhirnya tahu ternyata hati itu telah memilih hati yang lain.
Menyedihkan; saat aku tahu tidak pernah ada namaku di hatimu.
Menyedihkan. Kasihan (?)

Tidak. Aku tidak ingin dikasihani. terlebih olehmu.
Pun kamu ingin aku tetap kuat. Tetap tersenyum.
Iya, aku akan kuat. Aku akan tetap tersenyum. Aku akan terus melangkah, meskipun harus menggunakan “topeng” untuk beberapa saat.
Karena kamu pasti tahu, senyumku adalah palsu.
Kamu pasti tahu, kalau aku terlalu rapuh.
Kamu pasti tahu, kalau aku akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melangkah lagi ke depan.
Kamu pasti tahu, kalau aku terlalu banyak menyimpan harapan semu.
Kamu pasti tahu, bahwa di dalam hatiku ada namamu yang terukir di sana.
Kamu pasti tahu itu.

Aku hampir lupa seperti apa rasa luka itu, atas segala rasa sakit yang pernah kurasakan sebelumnya, atas segala rasa yang dihindari oleh hati yang rapuh.
Aku hampir lupa... hingga kamu menunjukkannya padaku---kini.
Kamu menunjukkan segala rasa itu dengan sempurna. Sangat sempurna.
Terima kasih, kamu!
Mungkin luka akan segera berlalu, dengan seiring berjalannya waktu; aku harap begitu.

Selamat tinggal, kamu!
Semoga kamu lekas tergerus oleh waktu, menghilang, dan segeralah berlalu.
Ini akan menjadi cerita, kisah, sejarah. Ah, entah apa pun itu; tentang aku dan kamu.~


Rabu, 18 April 2012

Maaf, Aku Bohong!

di 4/18/2012 03:48:00 PM 0 komentar
"Aku selalu ingin jatuh di hatimu, sebelum akhirnya sadar bahwa mengagumi jauh lebih merasa terhormat dari segala apa yang kusebut cinta" ~ @Aya_zahir


Mataku terasa panas, seperti akan menangis. Dan aku benci menangis, terlebih hanya karena kamu.
Aku memang cengeng dan sering menangis, tapi bukan karena kamu. Sungguh, bukan karena kamu.
Ada hal-hal lain yang mudah membuatku menangis, tapi sekali lagi, bukan karena kamu!

Bagaimana bisa aku sebegitu emosional menghadapimu?
Bagaimana bisa aku merasa gembira ketika kita bisa menghabiskan sedikit waktu di tiga per empat sisa malam hanya dengan mengobrol melalui tulisan?
Bagaimana bisa kamu, yang belum lama kukenal bisa menjadi inspirasiku dalam menulis?
Bagaimana bisa kamu, dengan jarak ribuan kilometer, bisa membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, hanya dengan mengingatmu?
Bagaimana bisa kamu, yang kerap kali mengabaikanku, tetap bisa membuatku untuk tidak membencimu?
Ini gila. Benar-benar gila!

Kamu pasti tidak pernah tahu bahwa aku tidak suka berbohong. Aku ingin selalu jujur dengan sikap dan ucapanku. Aku ingin jujur pada setiap apa yang aku rasakan. Tapi tidak untuk kali ini. Tidak untuk perasaanku padamu. Maaf, aku terpaksa berbohong... Maaf, kalau aku cenderung naif..
Aku tetap tidak bisa mengakui bahwa aku menyukaimu. Ya, meskipun kamu sendiri sudah tahu kalau aku berbohong. I just don't care!!

Sekali lagi, aku tidak akan pernah mau berkata jujur untuk kali ini.
Karena tanpa aku berkata jujur pun, kamu sudah tahu apa yang aku rasakan..
Biarkan aku bersikap naif, untuk kali ini..

Jumat, 30 Maret 2012

Selamat Ulang Tahun, Kamu!

di 3/30/2012 11:33:00 PM 3 komentar
Mataku tak sengaja melihat kalender di ruang kerjaku. Kulihat tanda merah melingkari angka 5. Aku lupa kapan aku melingkarinya. Sifat pelupaku semakin bertambah parah. Bahkan aku hampir selalu lupa hari ini hari apa. Hanya catatan dan reminder di ponsel yang seringkali kuandalkan. Aku melihatnya sekali lagi dan menepuk keningku, "hampir aja lupa. Tanggal 5 Januari, berarti hari ini", gumamku.

Aku segera menghubungi sekertarisku dan memintanya untuk segera memesan tempat di sebuah restoran dan menyiapkan segala yang kubutuhkan. Aku juga menghubungi seseorang dan meminta kesediaannya untuk datang, seperti yang telah direncanakan seminggu yang lalu.

Meskipun ini terlalu mendadak, karena keteledoranku sendiri, aku ingin segala sesuatunya sempurna untuk seseorang yang sangat spesial. Seseorang yang selalu memenuhi ruang di hatiku. Seseorang yang selalu ada untukku dan memberi warna di hidupku. Seseorang yang sangat kucintai. Dia adalah jantung hatiku.
***
Hampir dua puluh menit aku menunggu, akhirnya dia datang. Malam ini dia terlihat sangat cantik dengan dress warna pink, kesukaannya. Aku mengecup pipinya. Dia tersenyum manis.

Aku melirik jam di tangan kananku. Sebentar lagi, batinku.
"Ada kejutan spesial untukmu, Sayang. Tunggu sebentar lagi, ya.." kataku dengan mengedipkan salah satu mataku.
"Apa nih?"
"Tapi matanya ditutup dulu ya..nggak boleh ngintip loh.."
"Huh, apaan sih sampai segitunya. Bikin penasaran aja", jawabnya dengan memoncongkan bibirnya.
Aku tersenyum dan segera menghampirinya untuk mengikatkan kain kecil untuk menutupi kedua matanya. Dia pun menurut pasrah.

Aku segera mengetik pesan di ponselku. Tak lama kemudian, seseorang datang dengan sebuah kuetart di tangannya. Aku melambaikan tanganku ke arahnya dan meletakkan jari telunjukku di bibirku, memberinya isyarat. Dia tersenyum menghampiriku dan duduk di sampingku.

"Udah belom? Lama banget, sih.." tanyanya kesal.
"Iya, udah. Sekarang buka deh."

Dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan tampak kaget dengan apa yang dilihat di depannya. Aku tersenyum. "Selamat ulang tahun, Sayang. Seperti yang kamu inginkan, kejutan spesialnya sudah ada di depanmu-- seorang ibu untukmu" kataku sambil mengecup keningnya.

Senyum Kinar langsung merekah dan langsung memeluk perempuan yang ada di depannya. Perempuan yang sempat menghilang. Perempuan yang sejak lama diinginkan Kinar untuk menjadi ibunya. Perempuan yang kucintai setelah Kinar, putri kecilku satu-satunya.

Dia tertawa riang. "Terima kasih, Pa.." bisiknya sambil mengecup pipiku.*



Jumat, 23 Maret 2012

Love? Just make It Simple

di 3/23/2012 08:15:00 PM 0 komentar
“Kamu boleh gagal dalam menyelesaikan studi, kamu boleh terantuk-antuk dalam mendapatkan pekerjaan, kamu boleh tersendat dalam meniti karir, tapi kamu jangan menikah dengan orang yang tidak benar-benar kamu cintai. Karena itu nyaris menyerupai kebodohan. Dan itu hanya semakin masuk dalam kepungan peristiwa yang tidak pernah kamu kehendaki. Hidup serumah dengan orang yang tidak kamu cintai, berangkat dan tidur dalam suasana yang sama, bercinta tanpa sepenuh rasa, beranak pinak, dan hanya merasa bahwa ini semua sekedar mengisi hidup, bukan untuk hidup itu sendiri.”

Saya mendapatkan quote itu dari salah satu teman, yang saya sendiri nggak tahu siapa penulisnya. Tapi setelah saya baca quote itu, saya jadi menggalau *halah*. Saya termasuk tipe pemuja cinta, tapi saya juga ingin realistis di jaman yang serba rumit seperti sekarang ini :’) Saya, dan mungkin juga semua orang ingin mencintai dan dicintai dengan tulus dan ikhlas. Well, a little bit of naive, may be :) Tapi, saya juga terlalu sering dicekoki dengan cerita-cerita yang yah, terdengar miris dan semacamnya dari beberapa teman cowok dan teman cewek saya. Maka, saya pun lantas jadi sedikit semacam parno. Saya (kadang) cenderung gampang curiga sama orang, dan kebetulan memang seringkali kecurigaan saya itu benar.

Soal cinta, saya sendiri (jelas) bukan pakarnya. Pengalaman saya tentang cinta-mencinta dan semacamnya tidak patut diacungi jempol. Ada banyak pendapat tentang cinta. Ada yang bilang, cinta itu pembodohan; ini pendapat orang yang sering melakukan hal-hal konyol atas nama cinta. Ada juga yang bilang, cinta itu indah; ini pendapat orang yang kehidupan asmaranya berhasil karena belum pernah mengalami pahitnya cinta *halah* Cinta itu absurd; ini pendapat bagi mereka yang tidak percaya adanya cinta. Teman saya sendiri bilang, kalau cinta itu bullshit, karena dia telah mengalami semacam pengkhianatan cinta. Cinta itu nano-nano, ada rasa manisnya, asem, juga asin; ini pendapat orang yang cerdas, hahaha.. Bagi saya sendiri, cinta itu adalah misteri, atau seperti hantu; di mana banyak orang yang membicarakannya, namun hanya sedikit yang bisa melihatnya. Misalnya si A sedang mempunyai hubungan dengan seseorang dan menyebutnya itu cinta, tapi ketika si A bercerita pada si B, mungkin B tidak menamakan itu cinta, tapi sesuatu yang lain. Bisa saja A mengalami apa yang disebut B sebagai suatu pembodohan, karena orang yang dicintai oleh A seringkali membohongi dan mengkhianatinya, sering melakukan kekerasan psikis, misalnya. Tapi si A tetap setia pada hatinya—mencintainya. Entahlah, setiap individu mempunyai perspektif masing-masing untuk memandang sebuah “cinta” itu. *saya sendiri susah untuk mengatakannya*

Mungkin karena saya sering dijadikan semacam “tempat sampah” atau sekedar dimintai pendapat tentang hal-hal yang beraroma galau oleh teman-teman saya, nggak tau juga kenapa, padahal mereka tahu saya bukan pakarnya, hahaha.. tapi, mungkin mereka nyaman dan percaya untuk bercerita pada saya, atau mungkin saya termasuk pendengar yang baik. Entahlah.. Dari cerita dan pengalaman mereka tersebut, saya banyak belajar, mengambil segi positif dan membuang yang negatif. Memang seharusnya seperti itu, bukan? *sigh* 

Selain sebagai sesuatu yang misteri, bagi saya cinta itu sederhana. Why you have to make it so complicated, when it can be that simple? Jika memang kamu merasa nyaman ketika menghabiskan waktu bersama dengan seseorang atau kamu merasa nyambung dan klik ketika mengobrol dengan seseorang, kemudian kamu akan menemukan semacam chemistry dengan orang itu, maka bisa saja cinta itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa pernah kamu sadari. Dan ketika cinta itu datang, kamu pun tidak perlu untuk menyangkal atau menghindari perasaan itu, apabila memang kesempatan itu ada. Just let it flow!! Tapi ketika kamu dihadapkan pada sesuatu yang tidak seharusnya, kamu juga tidak perlu memaksakan untuk mencinta atau memaksa untuk mencari cinta itu. When it come, it comes. Semua akan indah pada waktunya. Kamu hanya perlu untuk tidak menutup pintu hatimu.

Berbicara tentang quote tadi, sebenernya ada benarnya juga. Seseorang itu sebaiknya memang menikah dengan orang yang dicintainya, atau minimal, ada semacam rasa ketertarikan kepada pasangannya, merasa klik atau nyambung dengan pasangannya, dan selanjutnya cinta itu bisa ditumbuhkan dengan kemauan bersama. Biarkan cinta itu mengalir apa adanya. Bicara memang kadang terasa lebih mudah daripada menjalaninya. Karena masalah cecintaan itu pastilah so complicated. Saya sangat paham soal itu. Karena tidak ada cinta yang sempurna. Tidak ada hati yang sempurna. Yang ada hanyalah bagaimana kita bisa mencintai pasangan kita dengan sempurna.~ (Dan’s) 


Sabtu, 17 Maret 2012

Cinta Itu Menyembuhkan

di 3/17/2012 10:54:00 PM 0 komentar
Alya mematut dirinya di depan cermin, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini ia lebih mencondongkan wajahnya ke cermin, mengamatinya sekali lagi dengan seksama. Ia menyentuh pipi, kening, dan sesekali merapikan rambutnya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan membuka galery photo. Ia melihat photo dirinya bersama teman-temannya yang diambil dua hari yang lalu di acara pernikahan salah satu teman semasa kuliahnya. Kemudian ia mulai membandingkan penampilan dirinya dengan teman-temannya.

“Apa yang salah, sih? Emang salah gue gitu, kalau muka gue nggak boros?” gumamnya. Ia mendengus kesal dan menghempaskan dirinya ke ranjang. Matanya menerawang dan teringat kembali kejadian dua hari yang lalu.

“Eh si Alya, lama nggak ketemu..Kok nggak berubah, tetep aja kayak dulu ya?” kata Icha, temannya.“Iya, Cha..hehe” jawab Alya sambil nyengir. Dalam hatinya ada rasa senang sekaligus kesal. Senang karena merasa masih kelihatan lebih muda dibanding dengan teman-temannya yang lain yang tampak lebih tua, ini artinya ia awet muda. Tapi lama-lama dirinya merasa kesal juga karena hampir tiap bertemu, mereka selalu mengatakan hal yang sama. Ia tidak tahu lagi cara membedakan mana yang pujian, dan mana yang celaan. “Iya Al, lo imut, sih” temannya yang lain ikut berkomentar. Kali ini, Alya hanya tersenyum kecil.

Saat sedang mengobrol, tidak sengaja mata Alya melihat Ray--lelaki yang dulu pernah singgah di hatinya. Ia enggan untuk menampakkan diri, apalagi untuk menyapanya. Tapi hal itu sungguh tidak bisa ia hindari. Ray melihatnya...dan menghampirinya. Alya pun cenderung pasif untuk terlibat percakapan dengannya. Ada sisa luka yang tiba-tiba menguap begitu saja, tanpa ia sadari. Padahal ia telah berusaha untuk mengubur luka itu dalam-dalam, tiga tahun ini. Dan ia merasa cukup berhasil melupakan kenangan itu, sampai akhirnya ia harus bertemu lagi dengannya--hari ini. Ia merasa ingin cepat-cepat pulang dan menghilang.

Tanpa sadar, ia teringat saat dirinya dan Ray masih dekat dan menjalin hubungan baik--dulu. Mereka terlibat hubungan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saling menjaga dan menyayangi satu sama lain tanpa pernah ada kata yang seharusnya diucapkan oleh dua orang yang memang saling mencinta—sebuah pengakuan cinta. Tapi kenyataannya, mereka hanya sepasang sahabat yang saling mencinta dalam diam. Beberapa teman menyebutnya sebagai “complicated-relationship”. Dan Alya menyebutnya; hubungan yang menggantung. Klise.

Hubungan mereka terus berlanjut seperti itu, hingga Ray, tanpa sepengetahuan Alya, menjalin hubungan dengan gadis lain. Ray mengenalkan gadis itu sebagai tunangannya. Seketika hati Alya hancur. Ray; sahabat yang ia sayangi sekaligus ia cintai, tidak pernah bercerita mengenai hal ini. Padahal selama ini hampir tidak ada rahasia di antara mereka.

“Oh, jadi ini temen yang sering kamu ceritain ke aku, Say..” kata gadis itu, saat dikenalkan dengan Alya. “Wah, beneran masih kelihatan imut, ya..Beda banget sama kamu, Say. Muka kamu boros banget, hahaha..” katanya lagi, dengan gaya sok akrab yang tentu saja, sedikit menyinggung perasaan Alya. Ia hanya tersenyum kecil menanggapi komentar gadis itu. Ray menyikut lengan gadis itu. Ray tahu, Alya paling sensitif tentang hal yang menyangkut fisiknya yang memang tergolong kecil mungil.

Beberapa hari kemudian, Alya tidak sengaja bertemu dengan salah satu teman dekat Ray. Ia bercerita bahwa Ray sebenarnya mencintai Alya, tapi ibunya tidak menyetujuinya, hanya karena penampilan Alya yang childish. Ibunya berpikir bahwa Alya tidak cukup dewasa untuk bersama anaknya. Dan Ray bingung harus memilih siapa. Ia tergolong tipe penurut dan sangat menyayangi ibunya. Ia hampir tidak pernah membantah perkataan ibunya, walaupun harus mengorbankan perasaannya sendiri. Dan Ray akhirnya memilih untuk menghindar dari Alya dan membuka hatinya untuk yang lain. Alya terdiam mendengar cerita temannya itu. Lukanya semakin bertambah. Bagaimana mungkin, seseorang hanya dinilai dari wajah dan penampilannya, tanpa terlebih dulu mencoba untuk mengenalnya. Sejak itu, hubungannya dengan Ray merenggang. Dari yang selalu, menjadi sering, lalu jarang...dan kemudian tidak sama sekali. Mereka hanya berhenti bicara.

***

Mata Alya masih menerawang ke langit-langit kamar. “Berarti emang bukan jodoh”, gumamnya. Alya tersenyum sendiri dan kemudian memandangi suaminya yang masih tertidur pulas di sampingnya. Cinta lelaki inilah yang telah menyembuhkan lukanya, juga cinta mertuanya. Mereka tidak pernah mempermasalahkan penampilan Alya. Mereka bilang, itu hanya soal penampilan. Cinta itu menyembuhkan. Menyembuhkan segala luka. Menyembuhkan rasa tidak percaya dirinya.

Kamis, 23 Februari 2012

Cinta Datang (Bukan) Karena Terbiasa

di 2/23/2012 08:12:00 PM 0 komentar
Somewhere, 23 Februari 2012 at. 12.30 am

Pernah nggak terlintas pertanyaan tentang siapa jodoh kita kelak, seperti apa dia, apa yang sedang dikerjakannya, di mana dia tinggal, apa yang dia sukai, dan sebagainya dan sebagainya. Lalu, kadang kita hanya bisa menghela nafas panjang, menutup lamunan kita dengan hanya tersenyum kecil atau terlelap dan kemudian membawanya ke alam mimpi, dan berpikir bahwa semua itu hanya Tuhan yang tahu. Semua adalah rahasiaNya.

Kadang jodoh kita adalah orang yang keberadaannya tak jauh dari kita, tanpa pernah kita menyadarinya. Bisa jadi teman main kita, sahabat lama yang telah lama menghilang kemudian bertemu kembali pada moment yang tidak sengaja, orang-orang di sekitar kita yang sering kita temui tapi tak pernah terlintas dalam ingatan kita, atau mungkin kenalan baru kita. Dan di jaman serba canggih seperti sekarang ini, banyak cara untuk mendapatkan teman baru. Banyak juga yang mendapatkan pasangannya dari pertemanan di jaringan sosial, seperti facebook, twitter, atau  komunitas yang lain. Banyak contoh nyata di sekitar saya yang mendapatkan jodohnya dari pertemanan dunia maya tersebut.

Saya sendiri dulu menganggap seseorang yang menjalin hubungan pertemanan lewat dunia maya adalah klise alias tak pernah nyata. Kalaupun pada akhirnya mereka sepakat membuat janji untuk kopi darat alias ketemuan, pada akhirnya tetap saja akan terkesan klise. Biasanya pada waktu mereka ketemu, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Sedikit banyak, seperti itulah pengalaman beberapa teman yang saya dengar.

Saya sendiri juga pernah mengalami hal yang serupa. Meskipun perasaan saya waktu pertama kali ketemu dengannya sedikit ilfil, tapi ternyata ego saya mampu mengalahkan semuanya. Saya termasuk orang yang mudah ilfil, namun adakalanya saya kekeuh dengan sesuatu hal yang dari awal mampu membuat saya merasa klik akan sesuatu tersebut. Misalnya saja, saya sedang pergi ke toko untuk mencari sebuah tas. Saya dihadapkan dengan berbagai banyak pilihan tas yang sangat menarik. Teman saya pun menyodorkan beberapa pilihan tas yang dianggapnya menarik, saya pun mengiyakan kalau memang tas-tas tersebut bagus dan menarik, tapi tidak lantas membuat saya ingin membeli tas tersebut. Namun, ketika mata saya bertemu dengan sebuah tas yang menurut saya tidak lebih bagus dari tas-tas yang dipilihkan teman saya tadi, tapi hati dan pikiran saya semacam langsung klik dengan tas tersebut, maka saya pun mengambil tas tersebut dan membelinya. Itu juga terjadi ketika saya membeli sepatu atau yang lain. Bukan berarti saya menyamakan seseorang tersebut dengan sepatu atau tas, hanya saja saya menganalogikannya lebih kurang seperti itu. Dari pertama kali saya berkenalan dan melihat fotonya, yang mungkin tidak secakep teman-teman saya yang “nyata” (baca: bukan di dunia maya), saya sudah merasa klik sama dia. Dia ya dia, bukan yang lain.

Pertemanan saya waktu itu memang lebih klise dari yang klise, haha.. Saya menganggap dia seperti kakak laki-laki saya, begitu pun sebaliknya. Entah saya yang bodoh, karena mempercayai hal yang klise, atau memang secara  tak sengaja perasaan mengalahkan logika, saya merasa hubungan “kakak-adik” ini jadi melebihi nama hubungan itu sendiri. And yes, i do. I like him. Saya jatuh cinta dengan “kakak” saya itu. Semacam LDR (Long Distance Relationship) yang klise pun berjalan. Saya menikmati masa-masa itu.

LDR ternyata nggak semudah yang saya bayangkan. Makanya, saya slalu salut sama pasangan yang bisa bertahan menjalani LDR. Saya ingin bisa seperti mereka. Dan, ya, hubungan saya dengan “kakak” saya ini tidak berjalan lancar. Sejak dia pindah tugas ke tempat yang lebih “kota”, saya merasa “kakak” saya itu terkena virus semacam “city-syndrom”, seperti artis yang baru saja naik daun, dia akan mengalami artis-syndrom. Mungkin seperti itulah yang dialami “kakak” saya itu. Dia (mungkin) terlalu menikmati lingkungan barunya, bertemu dengan orang-orang baru dan lebih menarik, mungkin, dan pada akhirnya sangat jarang sekali menghubungi saya, sampai akhirnya melupakan saya. Dia pernah mencoba mencari kesalahan saya. Lagu lama. Atau mungkin saja dia memang hanya menganggap saya nggak lebih sebagai tempat singgah di saat dia merasa bosan atau penat, sebagai hiburan di saat dia merasa luang, well,i don’t know, kesan seperti itulah yang ada di pikiran saya waktu itu. Hubungan yang klise itu pun hanya berjalan beberapa bulan saja. Mungkin emang belum jodoh kali ya.. :’)

Dunia maya tetaplah dunia maya, bukan nyata. Tapi, justru beberapa teman saya mendapatkan pasangannya dari facebook. Seperti yang dialami kakak teman saya, teman SMA, ataupun teman kuliah saya. Mereka sekarang sudah menikah dengan pacar facebook-nya itu.. It’s awesome J Dan rata-rata yang mendapatkan pasangan di facebook adalah teman-teman cowok. Lucu. Menarik J

Ada salah satu teman yang berhasil mendapatkan pasangannya dari dunia maya dan bilang; “jodoh itu seperti semacam gambling; coba lagi, coba lagi, dan coba lagi sampai bisa dapetin yang cocok. Saya cuman bisa diam mendengar analoginya tersebut, berpikir keras untuk bisa mengerti maksudnya. “Jadi, kalau nggak berhasil di satu orang, jangan menyerah, coba aja lagi kenalan sama yang lain. Jangan pernah terpaku sama satu orang, keep moving on”, katanya lagi. Terus, saya jadi mikir, mereka yang kenalan lewat dunia maya tersebut, pacaran, terus menikah (padahal hubungan mereka hanya berjalan beberapa bulan), tapi mereka berani mengambil keputusan untuk menikah, sangatlah kece. Bayangin aja, mereka kadang hanya sesekali ketemu. Kalau berada dalam satu kota, mungkin mereka bisa sering ketemuan, tapi yang jauh-jauhan hanya bisa telpon-telponan atau chatting untuk berusaha mengenal satu sama lain. Tapi, mereka punya niat dan komitmen yang kuat. Salut dan seringkali membuat saya tersenyum iri :)

Ada pepatah jawa yang mengatakan: witing tresno jalaran soko kulino (cinta bisa datang karena terbiasa), menurut saya itu kurang tepat. Bagi saya, cinta itu datang bukan hanya karena terbiasa, tapi cinta itu bisa ditumbuhkan, kecuali kita melarang cinta itu sendiri untuk tumbuh. Seberapa lamapun kita bersama dan terbiasa dengan seseorang, tapi jika hati kita nggak pernah menumbuhkan cinta tersebut, maka tidak akan pernah ada cinta di dalam hubungan tersebut. Semua tergantung dengan niat dan komitmen kita sendiri. Mungkin seperti itulah kemudian banyak pasangan yang hanya beberapa bulan kenal tapi mereka memutuskan untuk menikah. Jangan mencoba untuk mempersulit cinta, karena cinta itu sederhana,  sometimes sih, hehee..

Mungkin perkataan teman saya tadi benar, bahwa jodoh itu semacam gambling. Kita harus tetap berusaha untuk mencoba membuka hati kembali, mencari hati yang baru lagi, di saat hati yang lama telah berpindah ke hati yang lain. Dan kalau ingin berhasil, jangan pernah membanding-bandingkan hati yang baru dengan hati yang lama, karena pasti hati yang baru tersebut bakal kalah dengan hati yang lama. Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu yang lebih baik, jika masih tetap bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan, begitu pun dengan hati. Kita tidak akan pernah menemukan hati yang sempurna. Kita hanya perlu mencari kebahagian-kebahagian kecil di antara perpindahan (hati) kita dan menikmatinya. Jodoh bisa datang dari mana saja dan kapan saja, di dunia nyata ataupun di linikala, tanpa pernah kita tahu. Hanya perlu keberanian untuk membuka hati, mencari hati yang baru, berpindah hati, dan mengenal hati tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangannya. You better move on!!

Inspired by: Raditya dika- Manusia Setengah Salmon
 

Danie's Microcosm Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei